emma's blog


Semiotika, Sebuah Usaha Memahami Makna Tanda

Setiap hari, kita terpapar sistem tanda yang senantiasa mengepung kita, yang menghipnotis kita untuk melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan orang-orang di balik semua tanda. Ambil contoh televisi dan surat kabar yang begitu memiliki peranan penting dalam menentukan cara kita memandang dunia. Melalui berita yang dimuatnya, kita mempercayai adanya suatu peristiwa sebagaimana yang mereka katakan. Melalui iklan, kita dibuat untuk berpikir bahwa kita membutuhkan semua produk yang diiklankan demi memenuhi imaji yang mereka bentuk atas diri kita. Melalui program yang ditayangkan atau artikel yang dimuatnya, kita digiring untuk berpikir seperti mereka, dan merasa salah bila kita memiliki pemikiran yang berbeda.

Pertanyaannya kemudian adalah, benarkah semua yang ditawarkan televisi dan surat kabar tersebut adalah apa yang kita inginkan? Bila ditarik lebih luas lagi, pertanyaannya kemudian menjadi, benarkah cara kita memandang dunia benar-benar murni atas kehendak kita, lepas dari campur tangan kepentingan orang lain di luar kita?

Bagi Jack Solomon, di sinilah pentingnya mempelajari semiotika. Menurutnya, satu alasan utama kenapa kita harus belajar seperti ahli semiotika adalah, agar kita tidak mudah terperdaya. Semiotika sendiri tidak mengajarkan tentang apa yang harus kita pikirkan, melainkan bagaimana kita berpikir dan bagaimana menggali yang ada di bawah permukaan. Lebih lengkapnya, ia menyebutkan enam prinsip dasar semiotika, yaitu:
(1) selalu mempertanyakan pandangan umum (commonsense) akan segala sesuatunya karena percaya bahwa apa yang disebut common sense itu sebenarnya communal sense;
(2) titik pandang commonsense biasanya didorong oleh adanya kepentingan budaya yang memanipulasi kesadaran kita untuk alasan ideologis;
(3) budaya cenderung menyembunyikan ideologi mereka di balik tudung “alam”, yang mendefinisikan apa yang mereka lakukan sebagai “alami”, dan menyebut kebalikannya sebagai “tidak alami”;
(4) dalam mengevalusi sistem praktik budaya, kita harus mempertimbangkan kepentingan di baliknya;
(5) kita tidak merasakan dunia kita secara langsung namun melihatnya melalui saringan kode semiotika dan bingkai mitos; dan
(6) sebuah tanda merupakan semacam barometer budaya, yang menandai pergerakan dinamis sejarah sosial.

Keenam prinsip dasar semiotika sebagaimana disebutkan oleh Jack Solomon di atas nampaknya ingin menjadikan setiap orang kritis atas segala yang ada di sekitarnya, dan bebas memilih apa yang paling cocok untuk kita. Namun di sisi lain, keenam prinsip tersebut justru membuat semiotika sulit menyebut dirinya sebagai ilmu (science). Ilmu mensyaratkan adanya kebenaran universal, dan ini jelas-jelas ditolak oleh semiotika itu sendiri. Kritik lain yang mengemuka adalah, dengan menyerahkan pemaknaan pada masing-masing individu memunculkan pertanyaan seputar letak makna sesungguhnya. Apakah makna terdapat di balik suatu objek atau fenomena, ataukah dalam persepsi subjek? Bila ia ada di balik suatu objek atau fenomena, bukankah harusnya ada keseragaman pemaknaan? Namun bila ia ada dalam persepsi subjek, lantas apakah objek itu sendiri tidak mengandung makna?

*Review bab I buku The Signs of Our Time karya Jack Solomon, ditulis untuk memenuhi tugas tengah semester Semiotika Media


Becak, Riwayatmu Kini…

Siang yang sama, pemandangan yang sama. Banyak turis asing melintasi jalanan di hadapanku dengan duduk manis di atas becak. Kadang sendirian, kadang berdua. Dengan berbekal kamera mereka menikmati pemandangan yang ada di sekitar kami. Satu hal yang menarik perhatianku, aku tidak melihat penduduk lokal menggunakan becak untuk sarana transportasi, paling tidak di sekitar tempatku duduk mengamati saat itu. Sekali lagi, yang kumaksud di sini adalah penduduk, dan bukannya wisatawan lokal yang sesekali masih kulihat berdesak-desakan di atas becak, entah dengan anggota keluarganya, ataupun dengan oleh-oleh khas Jogja yang menggunung di sebelahnya.

Masih kuingat jelas masa kecilku yang begitu menyukai becak. Rasanya nikmat membiarkan angin sepoi-sepoi menyapa kita. Kala itu becak masih jadi pilihan transportasi umum, sejajar dengan angkot dan bis. Bila enggan berpanas-panasan dalam angkot dan malas bergelantungan di bis kota, becak menjadi pilihan yang begitu menyenangkan buatku waktu kecil. Biaya yang lebih mahal dan waktu tempuh yang (jauh) lebih lama dibandingkan angkutan bermotor bukan merupakan masalah besar. Dalam pikiranku waktu itu, bukankah malah enak bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar sambil menikmati segarnya angin menerpa wajah. Kalau soal biaya, tentu itu sama sekali bukan urusanku yang masih kanak itu.

Tapi… Kesukaan pada becak itu ternyata tidak bertahan untuk selamanya. Beranjak remaja dan mulai mengelola uang sendiri, aku menghindari becak karena itu berarti harus mengeluarkan uang lebih banyak. Ketika lebih besar lagi, becak jelas bukan pilihan untukku yang jarak bepergiannya semakin jauh. Rasanya tidak akan tega meminta tukang becak mengantar sejauh itu, selain tentu biayanya akan membengkak berpuluh-puluh kali lipat bila dibandingkan bepergian dengan moda transportasi lainnya.

Hmm.. Bisa jadi alasan yang sama denganku juga menjadi alasan mengapa becak makin ditinggalkan. Manusia modern yang begitu mengagung-agungkan efisiensi, tentu tidak akan memilih becak yang jelas boros waktu dan biaya. Meski ada terobosan dengan becak bermotor, namun nyatanya itu belum mampu mendongkrak reputasi becak.

Jadi teringat apa yang kupikirkan ketika pertama kali melihat becak bermotor itu. Sedih rasanya, mengapa becak yang selama ini bebas polusi malah justru ikut berevolusi menjadi penyebab polusi?? Tapi bukankah para tukang becak itu tidak diberi pilihan? Mobilitas manusia modern yang makin dinamis, tidak memberi ruang untuk moda transportasi yang tidak mendukung kecepatan geraknya. Sama seperti usaha wong cilik lain yang dianggap tidak memadai lantaran tidak memenuhi “standar” manusia jaman sekarang: entah biaya yang rendah, kebersihan, ramah lingkungan, kualitas terbaik, ketersediaannya sepanjang waktu, dan yang lainnya. Dengan modal mereka yang minim, mungkinkah mereka mewujudkan itu semua? Mungkinkah, misalnya, mereka menekan harga? Tentu mungkin, tapi itu berarti makin berkuranglah pendapatan mereka yang tidak banyak itu. Mungkinkah mereka selalu stand by 24 jam? Tentu mungkin, tapi itu berarti tidak ada waktu untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga. Sementara para pemodal besar itu, bisa membayar orang untuk melakukannya bergiliran, orang-orang kecil itu tidak. Kalaupun mereka melakukannya, justru malah akan ada penindasan berganda: bayangkan berapa gaji yang mampu mereka bayarkan untuk orang yang mau melakukan pekerjaan mereka?

Kembali ke becak, rasanya rindu berkeliling kota dengannya sembari bertukar cerita dan tawa dengan teman seperjalanan kita. Namun, jadwal yang ketat tidak pernah membiarkan kita untuk melakukannya. Ah, kenapa tiba-tiba waktu menjadi masalah yang begitu penting untuk kita? Kenapa efisiensi menjadi kata yang begitu mujarab di telinga kita? Bisakah kita kembali ke masa-masa ketika kita tidak lagi dikejar waktu, dan bisa melakukan apa yang kita sukai kapanpun, seberapapun lamanya? Tentu tidak, kata sebagian orang. Itu adalah syarat menjadi manusia dewasa: hidup tidak untuk saat ini, melainkan melakukan segala yang bisa dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Lebih lagi, melakukan sesuatu bukan karena itu adalah yang benar-benar kita inginkan, namun karena itu adalah hal yang bisa membuat masa depan kita lebih baik.

Humm.. masa depan yang lebih baik… masa depan seperti apakah yang bisa terwujud di saat kita bahkan tidak bisa menikmati proses menuju ke sana?


Iron Jawed Angels

Entah kapan aku terakhir kali nangis waktu nonton film sebelumnya, tapi film ini akhirnya membuatku nangis. Bukan karena sedih, tapi lebih karena kagum, terharu, sekaligus iri, bagaimana seorang perempuan bisa mempengaruhi begitu banyak orang lain di luar dirinya, bagaimana seorang perempuan bisa begitu teguh memperjuangkan apa yang diyakini. Perempuan hebat di film itu adalah Alice Paul, tokoh utama film ini yang diperankan Hilary Swank (sebenernya Paul ini punya banyak teman-teman yang juga nggak kalah hebatnya, tapiiii cuma kusebut dia ya karena dia tokoh utamanya. Practical reason, laah.. hehe). I’m not a big fan of Swank, tapi menurut ingatanku, yang kutau pendek ini, banyak filmnya yang memang bagus.

Oke, call me idiot karena tidak mengenal nama Alice Paul sampai akhirnya nonton film ini. Hellooo… dia tokoh yang memperjuangkan perempuan di AS untuk mempunyai hak pilih!! Dan aku menyebut diriku peduli pada gerakan perempuan?? Huuhhh… rasanya malu pada diri sendiri. Terima kasih banyak untuk sem ua yang memungkinkan kisah Alice Paul dkk ini difilmkan, dan akhirnya menambah wawasan mengenai gerakan perempuan. Tanpa adanya film ini, entah kapan aku akhirnya bisa tau nama ini. Menyedihkan, ya (sekaligus lebay,hehe)?

Di sini aku nggak akan banyak ngomong soal isi filmnya. Kalau soal itu, mending nonton sendiri, deeh… Tapi yang ingin kubagi di sini adalah bagaimana film ini serasa menohokku dengan pertanyaan, “Lihat, seorang perempuan bisa tetap pada perjuangannya meskipun dia mendapat tekanan dari sana-sini, meskipun dia mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari semua orang di sekitarnya. Lalu, bagaimana denganmu?”

Ugh, bisakah kita tetap menyuarakan apa yang kita yakini bila semua orang mengolok gagasanmu? Jadi keinget Lili Wahid yang berani memilih opsi berbeda dari rekan-rekannya di fraksi saat paripurna beberapa hari yang lalu. Bila kita yang ada di posisinya, cukup beranikah kita menunjukkan bahwa kita memiliki pendapat yang berbeda? Ataukah kita lebih memilih ikut arus, seraya berharap semua orang akan menyadari kebenaran gagasan kita? Berdoa sesuatu atau seseorang di luar kita akan membuat keadaan seperti yang kita inginkan, tanpa kita harus bersusah payah melakukan sesuatu mengenainya?

Oh, stop daydreaming, pliiiissss….!!! Apa yang kita harapkan? Seseorang tak dikenal akan memperjuangkan apa yang kita yakini, lalu kita tinggal menikmati hasilnya? Oh, pliiss… Percayalah, bila semua orang berpikir seperti itu, kita tidak akan bisa mengharapkan adanya perubahan apapun.. (hum.. sepertinya aku terlalu berapi-api… oke, mari kita turunkan temponya… ;p)

Maksudku adalah, semua orang hebat yang membuat perubahan hebat di dunia ini, pastilah pernah menjadi bukan siapa-siapa. Seorang gus dur yang dihormati di sana-sini itu juga pernah mengalami saat-saat dianggap aneh karena memiliki kebiasaan yang berbeda dari teman-temannya yang lain (meski bagi beberapa orang, dia tetap ‘aneh’ sampe akhir hayatnya.. ;p). Nggak ada orang yang hebat sejak lahir karena bawaan dari sananya. Semua orang yang kita anggap hebat, siapapun itu, pastilah ada saatnya mereka hanyalah manusia biasa seperti kebanyakan dari kita. Bedanya adalah, mereka berani melakukan apa yang mereka anggap benar, no matter what people say. Mereka berani mengorbankan “kenyamanan” hidup mereka demi terwujudnya harapan mereka. Mereka berani dicap negatif oleh masyarakat hanya karena mereka memiliki pendirian yang berbeda. Untuk menjadi orang hebat, kita harus bangun dari mimpi siang hari kita, dan mulai melakukan apa yang kita anggap benar. So, are u with me? 😉


Spiritualitas dan Sains dalam Avatar

Topik lain yang juga terbaca dalam film Avatar adalah relasi antara spiritualitas dan sains, terutama ketika kita menghadapi suatu bentuk spiritualitas yang berbeda dari yang selama ini kita kenal. Bangsa Na’vi merupakan versi fantastik dari masyarakat primitif yang dijumpai bangsa Eropa selama penjajahan. Hanya menggunakan pakaian ala kadarnya untuk menutupi tubuh mereka, pintar berkelahi seraya memegang prinsip tertentu, berburu dan bertempur dengan busur dan panah, memiliki hubungan yang erat dengan alam, memiliki spiritualitas yang mendalam dan ritual hidup.

Dalam Avatar, digambarkan ketika Kol. Quaritch hendak menyerang Rumah Pohon demi sumber energi yang terkandung di bawah tanahnya, penjelasan bahwa itu merupakan tempat yang sakral bagi bangsa Na’vi tidaklah cukup. Tokoh ilmuwan seperti Dr. Augustine dipandang perlu untuk menyela pembicaraan dengan penjelasan ilmiahnya mengenai bagaimana pohon itu menopang seluruh organisme yang ada di Pandora, demi meyakinkan Sully dan penonton bahwa tindakan menghancurkan pohon itu adalah salah. Pesan yang tertangkap di sini adalah bukannya untuk menghargai perbedaan, namun untuk menghargai apa yang sesuai dengan norma sosial dan ideologi kekuatan imperialis, dalam hal ini norma sains.

Seringkali kita berpikir bahwa spiritualitas kita perlu dilegitimasi oleh sains. Bahkan tidak hanya spiritualitas, segala yang ada dituntut untuk dapat dijelaskan secara ilmiah. Padahal sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, apa yang dianggap ilmiah tidaklah selalu demikian adanya, dan dalam hal gender dan seksualitas malah justru memunculkan represi atas nama ilmu. Seolah apa yang dilabeli “ilmiah” adalah sesuatu yang harus diterima kebenarannya begitu saja, tanpa perlu dipertanyakan kembali keabsahannya. Dengan mengusung gagasan universalisme sains, film ini seolah mengatakan bahwa sains kita sedemikian hebatnya, berlaku di mana saja, dapat menjelaskan apa saja.

Bila kita tengok kembali ke belakang, kita tentu ingat zaman ketika para ilmuwan percaya bahwa bumi itu datar, dan konsep bumi itu bulat menjadi bahan cemoohan. Zaman berganti, dan apa yang dianggap sebagai kebenaran dalam ilmu pun berubah. Saat ini, bila ada yang mengatakan bahwa bumi itu datar, tentu akan mendapat tertawaaan dari lingkungan sekitarnya. Sehubungan dengan itu, Barker (2008: 115) menekankan agar janganlah menganggap sains sebagai pengungkapan kebenaran objektif. Sains lebih menggambarkan pencapaian kesimpulan melalui sejumlah prosedur yang telah disetujui, yang menyokong konsensus atau solidaritas di kalangan komunitas ilmuwan untuk menganggapnya sebagai satu kebenaran. Oleh karenanya, kita juga perlu berhati-hati dengan sains, dan tidak menerimanya begitu saja sebagai kebenaran tunggal. Bila sesuatu itu tidak memenuhi kaidah ilmiah dan tidak dapat dipahami kerangka pikir kita saat ini, bukan berarti ia layak dihancurkan, terutama bila hal itu menyangkut kepercayaan orang lain.

Asumsi sains pastilah berlaku universal juga dapat menggiring pada pembenaran penghancuran sesuatu yang kita anggap tidak rasional dan tidak memiliki kaidah ilmiah. Padahal, lagi-lagi, kebenaran dalam sains bukanlah kebenaran dalam dirinya sendiri, melainkan kesesuaian dengan prosedur yang dianggap ilmiah. Di sinilah pentingnya mengembangkan sikap saling menghargai ketika menghadapi perbedaan..


Konstruksi Gender, (Hetero)Seksualitas serta Implikasinya dalam Avatar

Banyak hal yang dapat dilihat dalam film ini. Dari sisi kajian gender, ada beberapa hal tidak pernah berubah dari apa yang selama ini diyakini. Masyarakat barat selalu menerjemahkan dan menggambarkan relasi gender di masyarakat yang dianggap primitif sesuai dengan mitos Barat, atau dengan sengaja menutup mata pada perbedaan dan hanya melihat patriarki ala Barat di manapun mereka berada. Di Avatar, perempuan digambarkan bisa berkelahi, namun tetap langsing, lajang, dan selalu satu langkah di belakang lelaki mereka, serta tidak pernah memikul peran protagonis. Dengan kata lain, pencipta Avatar bisa membayangkan sebuah planet dengan binatang dan tumbuhan khayalan yang berbeda dengan yang dapat kita jumpai di bumi, namun soal relasi gender, mereka tidak dapat membayangkan hal yang berbeda dari yang ada di Barat.

Pembedaan gender menjadi dua, laki-laki dan perempuan berikut peran dan citra yang dilekatkan pada keduanya dianggap suatu hal yang alamiah dalam film ini. Perempuan Na’vi mewujud dalam gabungan perempuan berkulit putih dan “eksotik” yang memiliki jenis suara yang lebih tinggi dibandingkan para lelaki mereka, dan secara umum tampak dan bersikap sesuai norma yang dikonstruksi masyarakat kita di bumi. Lelaki bangsa Na’vi digambarkan berotot, keras kepala, dan bersikap sebagaimana yang cenderung kita anggap natural atau inheren secara biologis pada makhluk lelaki. Pesan yang tertangkap dari situ adalah, lelaki tetaplah lelaki dan perempuan tetaplah perempuan, tidak peduli di planet mana mereka tinggal. Dua jenis kelamin ini dianggap fundamental dan alamiah pada kehidupan itu sendiri.

Naturalisasi dua gender ini sesuai dengan keseluruhan motif penentuan biologis sepanjang sisa film. Kondisi fisik seolah merupakan putusan akhir. Dalam gender, determinasi biologis berarti bahwa, bila anda memiliki penis, maka selamanya anda adalah lelaki dan tidak ada yang bisa anda lakukan mengenainya, demikian halnya pada perempuan. Dalam beberapa film sci-fi seperti Star Wars, Star Trek, Lord of the Rings, tak peduli bangsa apakah tokohnya, entah elf, dwarf, dan semua ras dalam film Star Wars dan Star Trek, pembagian dua gender itu tetaplah sama sebagaimana yang biasa dipahami kebanyakan manusia di bumi. Kalaupun ada makhluk yang tidak jelas jenis kelaminnya apa, sebagaimana misalnya Orc yang terdapat dalam film Lord of the Ring, dia bukanlah sosok yang baik, bahkan merupakan tokoh jahatnya. Ini serupa dengan norma umum yang berlaku di masyarakat: bila tidak mengikuti pembedaan dua gender laki-laki dan perempuan, maka berbagai cap akan melekat padanya, dan kadar “kemanusiaan”nya akan dipertanyakan.

Maggie Humm dalam Ensiklopedia Feminisme (2002: 177-181) memperlihatkan bagaimana anggapan bahwa karakteristik gender itu berdasarkan perbedaan biologis mendapat kritik tajam dari para feminis. Karakter laki-laki dan perempuan yang biasanya dianggap alamiah oleh masyarakat barat biasanya merupakan konstruksi masyarakat melalui tekanan sosial ataupun pengkondisian, dengan proses internalisasi yang bisa disebut sebagai penggenderan. Sementara itu, Donna Haraway sebagaimana dikutip oleh Sophia Poca dalam Feminism and Postfeminism (2001: 64) menyatakan bahwa sesungguhnya yang dinamakan “menjadi” perempuan atau lelaki itu tidak ada. Kategori gender sebenarnya merupakan gagasan yang begitu kompleks, yang dibentuk oleh diskursus ilmiah dan praktik sosial yang lain yang patut dipertanyakan lagi keabsahannya. Joan Riviere (Poca, 2001: 60), pelopor gagasan bahwa gender itu adalah konstruksi sosial, menjelaskan bahwa gender seseorang itu dibentuk oleh proses mimesis, peniruan, yang kemudian mengilhami Judith Butler mengembangkan gagasannya seputar performativitas.

Butler sebagaimana dikutip oleh Moh. Yasir Alimi (2005: 61-62) menegaskan bahwa gender, ataupun seksualitas, merupakan struktur imitatif yang hadir sebagai akibat proses imitasi, pengulangan, dan performativitas. Konsep performativitas yang menjadi sentral dalam pemikiran Butler ini terinspirasi dari teori sastra yang membedakan makna menjadi dua, yaitu konstatif dan performatif. Makna konstatif di sini merupakan ekspresi atau berita, sementara makna performatif mengacu pada makna yang membentuk kenyataan. Ketika seseorang mengatakan “saya perempuan”, selain bersifat ekspresif menjelaskan jenis kelaminnya perempuan, juga sekaligus bersifat performatif, yaitu “saya perempuan, oleh karenanya saya harus bertindak sesuai dengan norma perempuan”.

Seiring dengan pembedaan dua jenis kelamin dalam film ini, heteroseksualitas dipandang sebagai suatu hal yang alami. Bangsa Na’vi bila telah mencapai usia tertentu akan menjalani ritual di mana laki-laki dan perempuan saling memilih pasangannya. Naturalisasi dua gender di film ini juga membawa implikasi pada heteronormativitas. Seolah film itu hendak menegaskan bahwa, laki-laki dan perempuan akan saling tertarik satu sama lain tidak peduli di planet mana mereka tinggal.

Heteronormativitas sendiri menurut Rubin, seorang feminis antropolog, sebagaimana dikutip oleh Moh. Yasir Alimi (2005: 54) merupakan ideologi yang menganggap satu bentuk hubungan seksual itu sah dan tidak bisa lagi dipertanyakan. Pandangan ini banyak mendapat tentangan, terutama setelah makin berkembangnya queer studies pada tahun 1990-an. Rubin, Foucault, dan Butler –untuk menyebut tiga di antara pengkritik heteronormativitas, berpendapat bahwa seksualitas merupakan konstruksi sosial, bukan ditentukan oleh faktor kromosomik-biologis (Alimi, 2005: 54). Bagi mereka, seksualitas bukanlah sesuatu yang alamiah, tidak berubah, asosial, dan trans-historis.

Memang, mungkin saja film ini hanya hendak menggambarkan bagaimana planet Pandora yang letaknya begitu jauh dari bumi ini memiliki kebudayaan yang mirip dengan yang ada di bumi, serta mengembangkan konsep gender dan seksualitas serupa yang banyak dianut di bumi. Namun hal ini justru makin menegaskan adanya keterkaitan antara normativitas gender dan penindasan. Secara umum, bila seseorang makin sedikit kemiripannya dengan kita, makin mudah menindasnya. Hal ini dapat dilihat dari pelabelan negatif terhadap kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual) di masyarakat, dan implikasinya pada kurangnya penghargaan atas hak mereka.

Humm.. Mari bayangkan bagaimana jadinya bila bangsa Na’vi memiliki konsep gender yang berbeda dengan yang biasa dianut manusia. Bisa jadi mereka diturunkan levelnya di bawah manusia menjadi sebangsa Orc. Dan jika itu yang terjadi, mengapa pula seorang kulit putih bernama Jake Sully mau repot-repot membantu makhluk itu melawan dominasi imperial? Bukankah kita tenang-tenang saja ketika Neytiri membunuh beberapa hewan di hutan Pandora demi “menyelamatkan” Sully, meski Neytiri sendiri melakukannya dengan berat hati?


Why Did I get Married?

No, no, no… Aku belum menikah. Ini bukan tentangku. Ini judul sebuah film tentang 4 sahabat yang sudah menikah sering menghabiskan liburan ramai-ramai bersama pasangan masing-masing. Menurutku nggak terlalu bagus si, sebenernya.. Hanya saja, tidak lama setelah nonton film ini, seorang sahabat lamaku menghubungiku dan bercerita tentang betapa ia tidak bahagia dalam pernikahannya yang baru berjalan beberapa bulan. Seperti yang sering kubilang, aku tidak percaya pada kebetulan. Jadi, there must be something, semacam pertanda dari semesta. Huumm.. apa ya..??

Everybody knows, im not an expert in this marriage-thing. Hellooo… menikah saja belum. Gimana bisa tau, apalagi ahli, soal itu..?? Aku hanya tahu, ketika aku datang ke pernikahannya beberapa bulan lalu dan bertanya, “Gimana rasanya mau menikah?” dengan pandangan sedikit menggoda, her answer shocked me out! It made me think that I would never let me be in her position that time: an unhappy bride. Ya, dia sama sekali tidak bahagia, bahkan dia sama sekali tidak tampak menginginkan pernikahan itu. Lalu mengapa menikah? Benar-benar tidak habis pikir…

Biar kucoba menggambarkan dengan cara lain: kamu tahu makanan di hadapanmu itu mengandung banyak bahan makanan yang kamu tidak suka. Apakah kamu akan tetap mencoba “mencicipinya”? Oke, aku memilih perumpamaan yang salah. Pernikahan jelas bukanlah makanan. Kamu tidak bisa mencicipinya sesendok, lalu memuntahkannya begitu saja seperti halnya makanan, bukan..? Huumm.. lagi-lagi aku salah. Bisa saja sih, kamu mencicipinya sesendok lalu memuntahkannya, tapi bukankah itu berarti kamu membuang uang jutaan, puluhan atau bahkan ratusan juta yang telah dihabiskan untuk pestanya? Belum lagi pandangan masyarakat tentang pasangan yang bercerai…

Hey, bukannya aku bermasalah dengan perceraian, ataupun orang yang pernah melakukannya. Tapii… bila kamu tahu bahwa kamu mungkin tidak akan bahagia dalam perkawinanmu, tapi tetap melakukannya, dan akhirnya “kecurigaanmu” terbukti: kamu tidak akan bahagia menjadi suami/istrinya, what can I say?? What do u expect me to say? Menghiburmu? Menguatkanmu?

Aku tahu, pernikahan memang tidak melulu menawarkan kebahagiaan. Tapi, paling tidak there should be a moment u feel happy about it, kan..? seperti temanku, dia sudah berpacaran bertahun-tahun dengan lelaki yang menjadi suaminya sekarang. Tiap kali kutanya bagaimana hubungan mereka, aku tidak ingat dia pernah tampak bahagia. Oh, then why did u get married to him..???

Belajar dari situ, sepertinya kita benar-benar harus senantiasa mengevaluasi hubungan kita dengan pasangan kita: apakah hubungan ini kita inginkan? Apakah pasangan kita adalah orang yang kita inginkan untuk menemani kita menghabiskan waktu? Memang, kita tidak mungkin akan selalu bahagia 24/7. Hanya saja, seperti yang diungkap di film ini, ada teori 80/20. Sebuah hubungan memang tidak sempurna dan bernilai 100, tapi paling tidak dia bernilai 80. Jadi, sebelum memulai atau mengakhiri sebuah hubungan, tentukan “nilai” hubungan itu. Pastikan kamu tidak akan menyesal telah memulai ataukah mengakhiri hubungan itu. Apakah hubungan itu bernilai 80, ataukah malah justru 20. Jangan sampai kamu melepas yang bernilai 80 karena si 20, juga jangan sampai memulai sesuatu yang bernilai 20, dan mengorbankan 80 kebahagiaanmu.

Tapi.. seperti yang kubilang, im not an expert in this thing. Jadi, u don’t have to believe me, kok. Ini cuma coretan kegelisahanku aja. Humm.. jadi merindukan lelakiku… I believe he’s my 80, paling tidak sampe saat ini. dan itu yang paling penting kan -there’s at least one moment we believe we belong to each other…. *blushing*


Perempuan, Konsep Kecantikan, dan Media (part II)

Kita tentu pernah mengalami bagaimana satu hal yang sama bisa ditangkap berbeda oleh orang yang berbeda. Demikian juga “pesan” yang termuat dalam media. Penonton bukan gelas kosong yang hanya bisanya menampung, kan? Ada proses dialektika di dalam diri penonton, yang pada akhirnya mempengaruhi penangkapannya atas satu pesan. Tentu, semuanya itu tergantung latar belakang dan kondisi saat ia menerima pesannya, yang membuat seorang penonton akan menerima pesan sesuai yang diharapkan si penyampai pesan, ataukah justru kebalikannya, bersikap kritis atas “pesan” yang berusaha ditanamkan oleh para pelaku media itu.

Lagi-lagi, di sinilah nampak “kehebatan” dari kemampuan adaptif mode of production kapitalisme ini. Kritikan bukannya menghancurkannya, namun justru membuatnya makin kuat dengan cara mengadaptasi kritik dan menjadikannya sesuatu yang lebih menguntungkan mereka. Contohnya saja, kritik seputar mengapa hanya perempuan yang dikomodifikasi. Kritik ini bukannya membuat kapitalisme berhenti melihat perempuan sebagai pasar potensial dari produk-produk kecantikannya, tetapi membuatnya “terinspirasi” untuk memasukkan lelaki menjadi pangsa pasar yang hendak dibidiknya. Kita bisa ngeliat ini dari begitu banyaknya produk-produk dengan label “for men”. Huibaaatt….

Aaargh.. ngomong apa to aku ini? Tugas setumpuk belum digarap, malah nulis gak jelas. Yaah.. gara2 tadi mau ngomong kayak gini di kelas gagal total karena waktunya dah abis. Ya sudah lah, ditulis aja buat blog ku tertjintah, deh. Daripada dipendem trus jadi jerawat, kan..? ;p

Eniwe, jadi teringat perbincangan dengan seseorang yang habis-habisan mengkritikku karena aku suka ngomongin feminisme, tapi masih suka dandan. Ya, karena buat sebagian orang kecantikan itu penting, aku pun masih ingin terlihat cantik. Buatku, ini bukan tentang membiarkan diri kita ikut termakan konstruk patriarkhi yang mengobjektifikasi perempuan dengan menuntut perempuan untuk tampil cantik, demi memuaskan para lelaki itu. Hanya saja, kita tidak bisa menafikan pandangan masyarakat yang lebih menghargai seseorang yang berpenampilan menarik, kan?

Dari sebuah hasil survey yang tadi diungkap pas diskusi di kelas, sebagian perempuan ingin tampak cantik bukan sekedar karena ingin dilihat laki-laki, tapi karena mereka merasa bahwa dengan menjadi cantik, orang-orang lebih respek pada mereka, dan mereka banyak mendapat kemudahan dalam hidup dan karirnya. You see, yang bermasalah di sini adalah pandangan masyarakat dan media. Kalau saja tidak ada pembedaan cantik-tidak cantik (yang pada akhirnya memunculkan penyikapan yang berbeda), mungkin perempuan-perempuan itu –termasuk dirikyu tentunya, tidak perlu repot-repot berusaha cantik hanya demi lebih “dianggap”. Capek-capek ngomong, tapi nggak didengar; punya potensi setinggi gunung, tapi seolah “invisible”. Gara-gara apa? Nggak cantik!! WTF!!!

Oke, emang ada si, perempuan-perempuan yang tidak cantik yang tetap didengar di mana-mana. Tapi itu adalah perempuan-perempuan yang sangat hebat, yang levelnya sudah jauh di langit. Dan itu tidak semua orang bisa meraihnya, kan? Bagaimana dengan perempuan yang “biasa-biasa” saja sepertiku? Bisa-bisa butuh ribuan tahun tuk didenger dan “dianggap ada”. Bisa-bisa nggak bisa bersuara, gara-gara dipenuhi kekhawatiran nggak dianggep, nggak dihargai… *keluh*

Bagaimana kita bisa mengubah dunia, bila kita terus-terusan disibukkan dengan kekhawatiran-kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan kita terkait penerimaan orang pada (apa yang) kita (sampaikan)? Padahal, masih banyak aspek dalam kehidupan perempuan yang perlu diperjuangkan, kan?

Makanya, menurutku mending pilih arena pertarungan kita. Kita nggak mungkin melawan semua hal secara sekaligus dalam satu waktu. Kalau kita masih merasa nyaman dengan tampil cantik, ya sudah. Yang penting kita sadar relasi kuasa yang bermain di situ, dan berusaha keluar dari situ. Tidak terus-terusan berkutat dengan permasalahan tampil cantik atau enggak, dandan atau enggak. Selama kita nyaman dengan diri kita, dandan ataupun enggak bukan persoalan yang besar.

Poinku adalah, berusaha tampil cantik itu nggak masalah. Hanya saja, jangan biarkan media, apalagi iklan, yang menentukan definisi kita tentang cantik. Kita bisa cantik, dengan cara kita masing-masing. Yang penting adalah menyerahkan kembali kuasa untuk mengatur tubuh perempuan pada perempuan yang bersangkutan itu sendiri. Menjadi cantik atau tidak, itu pilihan kita. Yang penting, kitalah yang menentukan konsep “cantik” bagi diri kita sendiri, dan terus kritis atas konsep serupa yang diwacanakan media. Itu menurutku, si. Gimana denganmu?


Perempuan, Konsep Kecantikan, dan Media (part I)

Lagi-lagi, terinspirasi oleh kuliah pagi ini. Untung tadi nggak jadi bolos. Presentasinya menarik, membahas tentang konsep kecantikan. Satu tentang Barbie dan konsep kecantikan yang dibentuknya, dan satu lagi tentang konsep “Putih itu Cantik”. Jadi inget jaman kuliah di filsafat dulu itu, seneng banget ngangkat soal tubuh perempuan, sebelum akhirnya beralih ke perempuan dan lingkungan. Pokoknya, kuliah apapun, bahasannya tentang perempuan! Hohoho.. (tapi kok skripsinya malah “melenceng”, ya? Embuh lah. Hiks)

Kembali ke konsep cantik, entah itu seperti Barbie yang langsing-semampai-berambut pirang-bermata biru, ataukah iklan Ponds (ups, nyebut merk!) yang mengagungkan putih, semuanya berlomba-lomba menentukan kriteria tertentu bagi perempuan agar dapat disebut “cantik”. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, siapa yang membentuk konsep kecantikan serupa itu? Apakah konstruk masyarakat, ataukah media –terutama melalui iklan yang membanjir itu?

Oke, karena ini adalah Kajian Budaya dan Media, tentu ada masyarakat dan media di sana. Tapi sebenarnya, konsep cantik (termasuk di antaranya itu adalah putih, langsing, bla.. bla.. bla..) itu dibentuk oleh masyarakat, yang kemudian direspon oleh kapitalisme dan produk-produknya serta- tentu saja, iklan sebagai media pemasarannya, ataukah dibentuk oleh media –ya terutama melalui iklan itu, demi meningkatkan penjualan produknya, lalu diamini oleh masyarakat, ya? Halah, mbulet. Hum.. Jadi singkatnya gini. Pertanyaanku adalah, pertama-tama yang ada itu adalah konsep yang ada di masyarakat bahwa cantik itu putih dan langsing, ataukah “barang dagangan” yg bisa memutihkan n melangsingkan itu? Siapa yang mempengaruhi siapa?

Kapitalisme terkenal dengan kemampuannya untuk menyerap kritik yang ditujukan padanya, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa masyarakat turut andil dalam proses pembentukan citra yang dijualnya. Tidak mungkin menjual sesuatu yang sama sekali tidak disukai semua orang, kan..? Lalu, untuk makin meningkatkan penjualannya, dikuatkanlah mitos kecantikan itu melalui media. Di sisi lain, masyarakat termakan “bujuk rayu” iklan, berikut konsep kecantikannya.

Tapi tunggu, benarkah masyarakat sebegitu bodohnya, sampai-sampai menerima mentah-mentah apa yang dimunculkan dalam media?

*bersambung, ya… ;p*


Sedikit tentang kejujuran

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya aku putuskan untuk menulis. Meskipun, entah apa yang akan kutuliskan di sini. Mungkin tulisan ini responsif, benar-benar responsif. Seseorang menohokku dengan pertanyaan tentang kejujuran. Mengapa aku tidak mengatakan yg sebenarnya pada semua orang?

Humm.. rasanya sejak dulu aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah satu nilai yang harus senantiasa kita jaga, no matter what. I don’t believe there is such thing called ‘white lie(s)’. Baiklah, mungkin agak terlalu hitam-putih di sini. Hanya saja, pembenaran-pembenaran atas kebohongan (dengan konsep white lie itu tadi) bukankah sama saja dengan pembenaran atas kebohongan yang kita lakukan? Apa bedanya dengan korupsi yg dilakukan dengan alasan ‘kebutuhan’?

Oke, aku percaya ada pengecualian untuk kondisi-kondisi “darurat”. Tapii… dengan mengedepankan pengecualian, seringkali kita terjebak pada kebohongan (ataupun korupsi) dengan alasan bahwa kita “terdesak” melakukannya. Seolah tak ada pilihan lain. Namun, benarkah demikian? Aku meragukannya. Seringkali hal itu dilakukan hanya karena itu adalah pilihan yang paling mudah, nyaman, dan mungkin instan.

Dan sekarang, seseorang mempermasalahkan kejujuranku. Oke, dia memang tidak menuduhku berbohong, tapi dia menyesalkan mengapa aku tidak secepatnya menceritakan kondisiku yang sebenarnya pada orang lain, demi kehidupan yang lebih baik (halah, bahasakuu… ;p). Ya, aku memang bersalah. Aku jauh dari sempurna. Maafkan aku…


yang kusadari setelah melangkah…

Pulang kuliah poskolonial, serasa mendapat suntikan semangat.

Ya, belajar ternyata menyenangkan.

Ingin membaca lebih banyak buku, belajar lebih banyak lagi. Langsung sms teman, kapan aku bisa meminjam buku-bukumu? Hahaha, pingin pinter kok gak mau modal? ;p maklum, masih suka agak bingung merencanakan keuangan ke depannya, jadi selama bisa pinjam atau menggunakan barang yang lama, keinginan untuk membeli ataupun mempunyai sendiri pun harus ditekan kuat-kuat. Lagipula, ini juga sejalan dengan semangat cinta lingkungan, kan? 😉

Sangat tertarik ketika di kelas tadi si bapak dosen mengatakan bahwa kolonialisme itu identik dengan maskulinitas. Jadi pingin membaca ulang Rumah Kacanya Pram, terutama dialog Tuan Pangemanann dengan atasannya. Dalam salah satu perbincangan, mereka –seingatku- menyamakan suatu negara yang tidak memiliki jajahan itu seperti duda yang tidak memiliki pembantu rumah tangga (what? Seksis banget kan..??).

Humm.. meski kata poskolonial itu sudah begitu akrab di telinga, tapi jujur, tadi baru sadar ternyata kajian ini bermula dari buku Orientalisme-nya Edward Said. Meski tentu saja waktu itu ia tidak menamainya poskolonialisme. Jadi tertarik belajar tentang dia lebih jauh.. Juga pemikiran tokoh-tokoh yang mempengaruhinya, kayak Foucault, Derrida, Lyotard, dsb dengan poststrukturalismenya, dan Fanon, Cesaires, Cabral, dsb dengan antikolonialismenya.

Memang, selama ini belum pernah serius membaca seputar tema ini. Merasa (sok) tau dengan garis besarnya, dan merasa tidak tertarik, lalu berhenti di situ. Kemarin bahkan sempat enggan mengambil mata kuliah ini karena asumsi bahwa tema ini bukan tema yang menarik buatku. Tapi karena ini mata kuliah wajib, akhirnya kuambil juga. Ternyata oh ternyata, dua kuliah awal sanggup membuat adrenalinku terpacu. Entah karena tema ini sudah menjadi “seksi” di mataku, ataukah karena hal baru selalu membuatku bersemangat. Apapun itu, aku menikmatinya.

Humm.. jadi nggak sabar nunggu kuliah berikutnya. Menanti, kira-kira apa lagi akan membuatku makin bersemangat untuk belajar, belajar, dan belajar…

Ternyata benar, jangan suka menaruh prasangka pada apapun. Kenali lebih dekat, dan kamu akan melihat sisi terang dari segala sesuatunya.