Becak, Riwayatmu Kini…
Siang yang sama, pemandangan yang sama. Banyak turis asing melintasi jalanan di hadapanku dengan duduk manis di atas becak. Kadang sendirian, kadang berdua. Dengan berbekal kamera mereka menikmati pemandangan yang ada di sekitar kami. Satu hal yang menarik perhatianku, aku tidak melihat penduduk lokal menggunakan becak untuk sarana transportasi, paling tidak di sekitar tempatku duduk mengamati saat itu. Sekali lagi, yang kumaksud di sini adalah penduduk, dan bukannya wisatawan lokal yang sesekali masih kulihat berdesak-desakan di atas becak, entah dengan anggota keluarganya, ataupun dengan oleh-oleh khas Jogja yang menggunung di sebelahnya.
Masih kuingat jelas masa kecilku yang begitu menyukai becak. Rasanya nikmat membiarkan angin sepoi-sepoi menyapa kita. Kala itu becak masih jadi pilihan transportasi umum, sejajar dengan angkot dan bis. Bila enggan berpanas-panasan dalam angkot dan malas bergelantungan di bis kota, becak menjadi pilihan yang begitu menyenangkan buatku waktu kecil. Biaya yang lebih mahal dan waktu tempuh yang (jauh) lebih lama dibandingkan angkutan bermotor bukan merupakan masalah besar. Dalam pikiranku waktu itu, bukankah malah enak bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar sambil menikmati segarnya angin menerpa wajah. Kalau soal biaya, tentu itu sama sekali bukan urusanku yang masih kanak itu.
Tapi… Kesukaan pada becak itu ternyata tidak bertahan untuk selamanya. Beranjak remaja dan mulai mengelola uang sendiri, aku menghindari becak karena itu berarti harus mengeluarkan uang lebih banyak. Ketika lebih besar lagi, becak jelas bukan pilihan untukku yang jarak bepergiannya semakin jauh. Rasanya tidak akan tega meminta tukang becak mengantar sejauh itu, selain tentu biayanya akan membengkak berpuluh-puluh kali lipat bila dibandingkan bepergian dengan moda transportasi lainnya.
Hmm.. Bisa jadi alasan yang sama denganku juga menjadi alasan mengapa becak makin ditinggalkan. Manusia modern yang begitu mengagung-agungkan efisiensi, tentu tidak akan memilih becak yang jelas boros waktu dan biaya. Meski ada terobosan dengan becak bermotor, namun nyatanya itu belum mampu mendongkrak reputasi becak.
Jadi teringat apa yang kupikirkan ketika pertama kali melihat becak bermotor itu. Sedih rasanya, mengapa becak yang selama ini bebas polusi malah justru ikut berevolusi menjadi penyebab polusi?? Tapi bukankah para tukang becak itu tidak diberi pilihan? Mobilitas manusia modern yang makin dinamis, tidak memberi ruang untuk moda transportasi yang tidak mendukung kecepatan geraknya. Sama seperti usaha wong cilik lain yang dianggap tidak memadai lantaran tidak memenuhi “standar” manusia jaman sekarang: entah biaya yang rendah, kebersihan, ramah lingkungan, kualitas terbaik, ketersediaannya sepanjang waktu, dan yang lainnya. Dengan modal mereka yang minim, mungkinkah mereka mewujudkan itu semua? Mungkinkah, misalnya, mereka menekan harga? Tentu mungkin, tapi itu berarti makin berkuranglah pendapatan mereka yang tidak banyak itu. Mungkinkah mereka selalu stand by 24 jam? Tentu mungkin, tapi itu berarti tidak ada waktu untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga. Sementara para pemodal besar itu, bisa membayar orang untuk melakukannya bergiliran, orang-orang kecil itu tidak. Kalaupun mereka melakukannya, justru malah akan ada penindasan berganda: bayangkan berapa gaji yang mampu mereka bayarkan untuk orang yang mau melakukan pekerjaan mereka?
Kembali ke becak, rasanya rindu berkeliling kota dengannya sembari bertukar cerita dan tawa dengan teman seperjalanan kita. Namun, jadwal yang ketat tidak pernah membiarkan kita untuk melakukannya. Ah, kenapa tiba-tiba waktu menjadi masalah yang begitu penting untuk kita? Kenapa efisiensi menjadi kata yang begitu mujarab di telinga kita? Bisakah kita kembali ke masa-masa ketika kita tidak lagi dikejar waktu, dan bisa melakukan apa yang kita sukai kapanpun, seberapapun lamanya? Tentu tidak, kata sebagian orang. Itu adalah syarat menjadi manusia dewasa: hidup tidak untuk saat ini, melainkan melakukan segala yang bisa dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Lebih lagi, melakukan sesuatu bukan karena itu adalah yang benar-benar kita inginkan, namun karena itu adalah hal yang bisa membuat masa depan kita lebih baik.
Humm.. masa depan yang lebih baik… masa depan seperti apakah yang bisa terwujud di saat kita bahkan tidak bisa menikmati proses menuju ke sana?