emma's blog


Perempuan, Konsep Kecantikan, dan Media (part II)

Kita tentu pernah mengalami bagaimana satu hal yang sama bisa ditangkap berbeda oleh orang yang berbeda. Demikian juga “pesan” yang termuat dalam media. Penonton bukan gelas kosong yang hanya bisanya menampung, kan? Ada proses dialektika di dalam diri penonton, yang pada akhirnya mempengaruhi penangkapannya atas satu pesan. Tentu, semuanya itu tergantung latar belakang dan kondisi saat ia menerima pesannya, yang membuat seorang penonton akan menerima pesan sesuai yang diharapkan si penyampai pesan, ataukah justru kebalikannya, bersikap kritis atas “pesan” yang berusaha ditanamkan oleh para pelaku media itu.

Lagi-lagi, di sinilah nampak “kehebatan” dari kemampuan adaptif mode of production kapitalisme ini. Kritikan bukannya menghancurkannya, namun justru membuatnya makin kuat dengan cara mengadaptasi kritik dan menjadikannya sesuatu yang lebih menguntungkan mereka. Contohnya saja, kritik seputar mengapa hanya perempuan yang dikomodifikasi. Kritik ini bukannya membuat kapitalisme berhenti melihat perempuan sebagai pasar potensial dari produk-produk kecantikannya, tetapi membuatnya “terinspirasi” untuk memasukkan lelaki menjadi pangsa pasar yang hendak dibidiknya. Kita bisa ngeliat ini dari begitu banyaknya produk-produk dengan label “for men”. Huibaaatt….

Aaargh.. ngomong apa to aku ini? Tugas setumpuk belum digarap, malah nulis gak jelas. Yaah.. gara2 tadi mau ngomong kayak gini di kelas gagal total karena waktunya dah abis. Ya sudah lah, ditulis aja buat blog ku tertjintah, deh. Daripada dipendem trus jadi jerawat, kan..? ;p

Eniwe, jadi teringat perbincangan dengan seseorang yang habis-habisan mengkritikku karena aku suka ngomongin feminisme, tapi masih suka dandan. Ya, karena buat sebagian orang kecantikan itu penting, aku pun masih ingin terlihat cantik. Buatku, ini bukan tentang membiarkan diri kita ikut termakan konstruk patriarkhi yang mengobjektifikasi perempuan dengan menuntut perempuan untuk tampil cantik, demi memuaskan para lelaki itu. Hanya saja, kita tidak bisa menafikan pandangan masyarakat yang lebih menghargai seseorang yang berpenampilan menarik, kan?

Dari sebuah hasil survey yang tadi diungkap pas diskusi di kelas, sebagian perempuan ingin tampak cantik bukan sekedar karena ingin dilihat laki-laki, tapi karena mereka merasa bahwa dengan menjadi cantik, orang-orang lebih respek pada mereka, dan mereka banyak mendapat kemudahan dalam hidup dan karirnya. You see, yang bermasalah di sini adalah pandangan masyarakat dan media. Kalau saja tidak ada pembedaan cantik-tidak cantik (yang pada akhirnya memunculkan penyikapan yang berbeda), mungkin perempuan-perempuan itu –termasuk dirikyu tentunya, tidak perlu repot-repot berusaha cantik hanya demi lebih “dianggap”. Capek-capek ngomong, tapi nggak didengar; punya potensi setinggi gunung, tapi seolah “invisible”. Gara-gara apa? Nggak cantik!! WTF!!!

Oke, emang ada si, perempuan-perempuan yang tidak cantik yang tetap didengar di mana-mana. Tapi itu adalah perempuan-perempuan yang sangat hebat, yang levelnya sudah jauh di langit. Dan itu tidak semua orang bisa meraihnya, kan? Bagaimana dengan perempuan yang “biasa-biasa” saja sepertiku? Bisa-bisa butuh ribuan tahun tuk didenger dan “dianggap ada”. Bisa-bisa nggak bisa bersuara, gara-gara dipenuhi kekhawatiran nggak dianggep, nggak dihargai… *keluh*

Bagaimana kita bisa mengubah dunia, bila kita terus-terusan disibukkan dengan kekhawatiran-kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan kita terkait penerimaan orang pada (apa yang) kita (sampaikan)? Padahal, masih banyak aspek dalam kehidupan perempuan yang perlu diperjuangkan, kan?

Makanya, menurutku mending pilih arena pertarungan kita. Kita nggak mungkin melawan semua hal secara sekaligus dalam satu waktu. Kalau kita masih merasa nyaman dengan tampil cantik, ya sudah. Yang penting kita sadar relasi kuasa yang bermain di situ, dan berusaha keluar dari situ. Tidak terus-terusan berkutat dengan permasalahan tampil cantik atau enggak, dandan atau enggak. Selama kita nyaman dengan diri kita, dandan ataupun enggak bukan persoalan yang besar.

Poinku adalah, berusaha tampil cantik itu nggak masalah. Hanya saja, jangan biarkan media, apalagi iklan, yang menentukan definisi kita tentang cantik. Kita bisa cantik, dengan cara kita masing-masing. Yang penting adalah menyerahkan kembali kuasa untuk mengatur tubuh perempuan pada perempuan yang bersangkutan itu sendiri. Menjadi cantik atau tidak, itu pilihan kita. Yang penting, kitalah yang menentukan konsep “cantik” bagi diri kita sendiri, dan terus kritis atas konsep serupa yang diwacanakan media. Itu menurutku, si. Gimana denganmu?


Perempuan, Konsep Kecantikan, dan Media (part I)

Lagi-lagi, terinspirasi oleh kuliah pagi ini. Untung tadi nggak jadi bolos. Presentasinya menarik, membahas tentang konsep kecantikan. Satu tentang Barbie dan konsep kecantikan yang dibentuknya, dan satu lagi tentang konsep “Putih itu Cantik”. Jadi inget jaman kuliah di filsafat dulu itu, seneng banget ngangkat soal tubuh perempuan, sebelum akhirnya beralih ke perempuan dan lingkungan. Pokoknya, kuliah apapun, bahasannya tentang perempuan! Hohoho.. (tapi kok skripsinya malah “melenceng”, ya? Embuh lah. Hiks)

Kembali ke konsep cantik, entah itu seperti Barbie yang langsing-semampai-berambut pirang-bermata biru, ataukah iklan Ponds (ups, nyebut merk!) yang mengagungkan putih, semuanya berlomba-lomba menentukan kriteria tertentu bagi perempuan agar dapat disebut “cantik”. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, siapa yang membentuk konsep kecantikan serupa itu? Apakah konstruk masyarakat, ataukah media –terutama melalui iklan yang membanjir itu?

Oke, karena ini adalah Kajian Budaya dan Media, tentu ada masyarakat dan media di sana. Tapi sebenarnya, konsep cantik (termasuk di antaranya itu adalah putih, langsing, bla.. bla.. bla..) itu dibentuk oleh masyarakat, yang kemudian direspon oleh kapitalisme dan produk-produknya serta- tentu saja, iklan sebagai media pemasarannya, ataukah dibentuk oleh media –ya terutama melalui iklan itu, demi meningkatkan penjualan produknya, lalu diamini oleh masyarakat, ya? Halah, mbulet. Hum.. Jadi singkatnya gini. Pertanyaanku adalah, pertama-tama yang ada itu adalah konsep yang ada di masyarakat bahwa cantik itu putih dan langsing, ataukah “barang dagangan” yg bisa memutihkan n melangsingkan itu? Siapa yang mempengaruhi siapa?

Kapitalisme terkenal dengan kemampuannya untuk menyerap kritik yang ditujukan padanya, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa masyarakat turut andil dalam proses pembentukan citra yang dijualnya. Tidak mungkin menjual sesuatu yang sama sekali tidak disukai semua orang, kan..? Lalu, untuk makin meningkatkan penjualannya, dikuatkanlah mitos kecantikan itu melalui media. Di sisi lain, masyarakat termakan “bujuk rayu” iklan, berikut konsep kecantikannya.

Tapi tunggu, benarkah masyarakat sebegitu bodohnya, sampai-sampai menerima mentah-mentah apa yang dimunculkan dalam media?

*bersambung, ya… ;p*


Sedikit tentang kejujuran

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya aku putuskan untuk menulis. Meskipun, entah apa yang akan kutuliskan di sini. Mungkin tulisan ini responsif, benar-benar responsif. Seseorang menohokku dengan pertanyaan tentang kejujuran. Mengapa aku tidak mengatakan yg sebenarnya pada semua orang?

Humm.. rasanya sejak dulu aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah satu nilai yang harus senantiasa kita jaga, no matter what. I don’t believe there is such thing called ‘white lie(s)’. Baiklah, mungkin agak terlalu hitam-putih di sini. Hanya saja, pembenaran-pembenaran atas kebohongan (dengan konsep white lie itu tadi) bukankah sama saja dengan pembenaran atas kebohongan yang kita lakukan? Apa bedanya dengan korupsi yg dilakukan dengan alasan ‘kebutuhan’?

Oke, aku percaya ada pengecualian untuk kondisi-kondisi “darurat”. Tapii… dengan mengedepankan pengecualian, seringkali kita terjebak pada kebohongan (ataupun korupsi) dengan alasan bahwa kita “terdesak” melakukannya. Seolah tak ada pilihan lain. Namun, benarkah demikian? Aku meragukannya. Seringkali hal itu dilakukan hanya karena itu adalah pilihan yang paling mudah, nyaman, dan mungkin instan.

Dan sekarang, seseorang mempermasalahkan kejujuranku. Oke, dia memang tidak menuduhku berbohong, tapi dia menyesalkan mengapa aku tidak secepatnya menceritakan kondisiku yang sebenarnya pada orang lain, demi kehidupan yang lebih baik (halah, bahasakuu… ;p). Ya, aku memang bersalah. Aku jauh dari sempurna. Maafkan aku…


yang kusadari setelah melangkah…

Pulang kuliah poskolonial, serasa mendapat suntikan semangat.

Ya, belajar ternyata menyenangkan.

Ingin membaca lebih banyak buku, belajar lebih banyak lagi. Langsung sms teman, kapan aku bisa meminjam buku-bukumu? Hahaha, pingin pinter kok gak mau modal? ;p maklum, masih suka agak bingung merencanakan keuangan ke depannya, jadi selama bisa pinjam atau menggunakan barang yang lama, keinginan untuk membeli ataupun mempunyai sendiri pun harus ditekan kuat-kuat. Lagipula, ini juga sejalan dengan semangat cinta lingkungan, kan? ;-)

Sangat tertarik ketika di kelas tadi si bapak dosen mengatakan bahwa kolonialisme itu identik dengan maskulinitas. Jadi pingin membaca ulang Rumah Kacanya Pram, terutama dialog Tuan Pangemanann dengan atasannya. Dalam salah satu perbincangan, mereka –seingatku- menyamakan suatu negara yang tidak memiliki jajahan itu seperti duda yang tidak memiliki pembantu rumah tangga (what? Seksis banget kan..??).

Humm.. meski kata poskolonial itu sudah begitu akrab di telinga, tapi jujur, tadi baru sadar ternyata kajian ini bermula dari buku Orientalisme-nya Edward Said. Meski tentu saja waktu itu ia tidak menamainya poskolonialisme. Jadi tertarik belajar tentang dia lebih jauh.. Juga pemikiran tokoh-tokoh yang mempengaruhinya, kayak Foucault, Derrida, Lyotard, dsb dengan poststrukturalismenya, dan Fanon, Cesaires, Cabral, dsb dengan antikolonialismenya.

Memang, selama ini belum pernah serius membaca seputar tema ini. Merasa (sok) tau dengan garis besarnya, dan merasa tidak tertarik, lalu berhenti di situ. Kemarin bahkan sempat enggan mengambil mata kuliah ini karena asumsi bahwa tema ini bukan tema yang menarik buatku. Tapi karena ini mata kuliah wajib, akhirnya kuambil juga. Ternyata oh ternyata, dua kuliah awal sanggup membuat adrenalinku terpacu. Entah karena tema ini sudah menjadi “seksi” di mataku, ataukah karena hal baru selalu membuatku bersemangat. Apapun itu, aku menikmatinya.

Humm.. jadi nggak sabar nunggu kuliah berikutnya. Menanti, kira-kira apa lagi akan membuatku makin bersemangat untuk belajar, belajar, dan belajar…

Ternyata benar, jangan suka menaruh prasangka pada apapun. Kenali lebih dekat, dan kamu akan melihat sisi terang dari segala sesuatunya.


Identitas!

Teringat perbincangan semalam dengan seorang pengamen dalam perjalanan kembali ke Jogja dengan bus. Humm.. Inilah mengapa aku sebenarnya suka naik angkutan ekonomi (bis ataupun kereta), meski kemarin sebenarnya pengecualian karena beberapa sebab. Di angkutan ekonomi, kesempatan bertemu beragam manusia semakin besar. Berbincang dengan mereka, mendengar kisah mereka, dan berusaha memetik satu dua hal dari perbincangan yang mungkin tidak terlalu lama hampir selalu menyenangkan buatku.

Dan kemarin, aku bertemu seorang pengamen. Jujur, aku lupa namanya (ya, ini memang kelemahanku sedari dulu. I’ve told ya..). Yang kuingat, dia begitu mendamba memiliki kartu identitas.

Humm.. Kartu identitas?

Sedemikian pentingkah itu, sampai-sampai dia berani menjanjikan untuk membalas budi baik orang yang mau membantunya mendapatkan kartu itu dengan apapun juga? I mean, he’s not rich, right? Bila ia yang tak memiliki segalanya mau menukar kartu identitas dengan apapun juga, bukankah itu menunjukkan betapa pentingnya selembar kartu yang selama ini kuanggap hanya memenuh-menuhii dompetku saja?

Dan dia bercerita tentang ketakutannya. Takut bila tiba-tiba meninggal ketika sedang mengamen. Bukankah bila tidak ada kartu identitas, tidak akan ada yang mengenali jasadnya, dan tidak ada yang tahu siapa yang harus dihubungi?

Hum.. bagaimana dengan selalu membawa secarik kertas di sakunya yang bertuliskan nama dan alamat yang bisa dihubungi?

Itu tetap tidak menyelesaikan masalah menurutnya. Tetap saja, tanpa dokumen “resmi”, ia seolah belum terakui hadirnya di dunia ini. Ia takut, bila tiba-tiba mendapat musibah dan mati, jasadnya hanya akan berakhir di meja lab, menjadi bahan percobaan mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Dan tidak akan ada yang mengakunya, karena toh dia tak tercatat secara resmi.

Hanya itu saja kah? Hanya persoalan kematian?

Ternyata tidak.

Ini bukan hanya soal perlakuan bila ia mati. Ini juga berpengaruh pada kehidupannya.

Dengan penghasilan yang bisa mencapai 100ribu sehari, bukankah sebenarnya ia bisa hidup “layak”? Tapi nyatanya tidak, masih gara-gara tak adanya kartu identitas.

Dia bercerita, dia sebenarnya sudah enggan hidup di jalanan, dan ingin menyewa rumah. Tapi permasalahannya adalah dia tidak memiliki kartu identitas, padahal itu mutlak diperlukan untuk menyewa rumah dan tinggal menetap di satu perkampungan.

Oh! Aku tidak pernah menyangka dampak dari selembar kartu itu bisa begitu panjang. Bisa mengubah kehidupan seseorang.

Rasanya ingin membantunya, agar dia bisa mewujudkan mimpinya, mendapatkan hidup yang diinginkannya. Tapiii.. apa yang bisa kulakukan?


Pelajaran hari ini…

Rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali aku “berteman” dengan semesta. Namun nampaknya ia belum menyerah untuk mengirimiku pertanda, meski aku tak pernah lagi memperhatikannya dengan serius. Teringat dengan novel favoritku, Celestine’s Prophecy, yang menginspirasiku untuk benar-benar memperhatikan tanda yang tersebar di sekitar kita, yang rupanya akhir-akhir ini terlupa dari kesadaranku.

Ah, harusnya aku tau semuanya akan menjadi seperti ini. Dalam dua hal yang kualami beberapa hari ini, aku yakin bahwa sebenarnya semesta sudah berkali-kali memperingatkanku. Dan aku mengabaikannya. Terus mengabaikannya. Berusaha percaya bahwa itu hanyalah kekhawatiran yang berlebihan. Berusaha lebih mempercayai apa yang tersurat dibandingkan yang tersirat.

Tapi.. tidakkah tampak jelas apa yang terjadi di masa lalu? Bukankah masa lalu telah memberikan gambaran mengenai mereka? Mengenai pilihan-pilihan sikap mereka?

Yah, ternyata aku bukan hanya mengabaikan semesta. Pengalaman juga ternyata tidak membuatku lebih berhati-hati. Huff… keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ugh, don’t be so naïve, emma! Tetap berpikir bahwa satu dua sikap tidak menunjukkan diri manusia seutuhnya, serta masih percaya bahwa semua orang baik dan tak mungkin memiliki niat jahat pada yang lain, di usia ini? Yeah, right…

Merindukan “teman-teman” lamaku. Humm.. Bisakah kalian kembali dalam hidupku, and save my world?

Terbelah menjadi dua, antara menghadirkan mereka kembali dalam hidupku, atau kembali ke dunia nyata, yang ternyata begitu pahit itu…

Sekarang, luka itu kembali hadir. Namun anehnya, tidak seperti sebelumnya, kali ini aku percaya aku akan baik-baik saja.Mungkin kekebalanku sudah lebih baik. Sekarang yang perlu dilakukan hanya tinggal mengubah (lagi!) rencana hidupku, yang dulu berbelok karena mereka juga.

Humm.. Mungkin sebaiknya aku berhenti berencana. Benar-benar berusaha mengalir seperti air. Benar-benar mempersilahkan takdir untuk bermain-main dengan hidupku. Toh, dia selalu mempermainkanku, tak pernah rela membiarkanku memegang kendali atasnya.

Hanya berusaha membiarkan semesta menuntunku, membawaku ke tempat yang dikehendaki takdir.
Sudahlah, terima saja…
Belajar legowo, belajar ikhlas.
Belajar untuk tidak mengharapkan apapun atas siapapun, termasuk diri sendiri…
Hidup hanya untuk (dipermainkan) hidup itu sendiri..


sejarah…

liburan kali ini, beberapa temanku -di waktu yang berbeda- memutuskan untuk menghabiskannya di bali. aku jadi teringat bertahun-tahun yang lalu jaman sekolah, aku punya seorang sahabat pena yang tinggal di sana. pertemanan kami “terputus” gara2 persoalan sepele, dua sifat yang tak pernah pergi dari hidupku: malas dan lupa. ya, waktu itu aku sempat malas menyelesaikan surat yang hendak kukirim ke dia, lalu seiring berjalannya waktu, aku pun lupa tuk menyelesaikan dan mengirimkannya. duuhh… aku benar-benar bukan teman yang baik…

yang lebih parah, aku sempat lupa namanya. akhirnya, usaha terakhir untuk menghubunginya adalah dengan melacak kembali nama dan alamatnya dari surat-suratnya dulu. saat itulah, aku baru menyadari bahwa sekotak penuh “sejarah hidup”ku telah lenyap entah ke mana. aku punya sekitar tiga kotak penyimpanan yang kupakai untuk menyimpan segala yang terjadi dalam hidupku. dan kotak yang salah satunya berisi sejarahku dan dia tiba-tiba kutemukan dalam keadaan kosong. oh, no!

yang lebih menyedihkan, kotak itu tidak hanya berisi tentang dia. hff… serasa kehilangan sebagian kisah hidupku. saat itu juga aku langsung mengecek kedua kotak yang lain. untunglah masih ada isinya, meski entah masih utuh atau tidak.

saat membuka kembali kotak kenanganku, rasanya seperti ditarik kembali ke masa lalu. melihat kembali foto-foto lama, surat-surat yang belum terkirim, surat-surat yang ditulis untukku, dan sepenggal catatan tentang hidupku, yang membawaku pada ingatan yang lain: dulu aku punya lebih banyak catatan lagi. diary, kumpulan cerpen jaman sekolah, komik ala kadarnya, semuanya tak bersisa. ibuku memang top, paling nggak suka melihat barang “tak terpakai”. tapiii… itu sejarah hidupku. mengapa semuanya turut dilenyapkan?? :’(

hff.. tak mungkin marah pada beliau untuk alasan “sesepele” ini. toh aku juga tak bisa selalu ada untuknya, tak selalu dapat memahaminya. hanya bisa berjanji pada diri sendiri untuk terus menulis, berusaha meninggalkan jejak masa kini untuk masa depanku. agar ketika suatu saat karena suatu sebab aku melupakan segala yang kualami sekarang, aku masih bisa membacanya, kemudian mengenangnya, dan mengingat kembali hikmah yang dapat dipetik dari semuanya.

* Untuk sahabatku Vera
hope you’re just fine, wherever you are..


apa arti lebaran untukmu??

Tiba-tiba tergelitik dengan pertanyaan yang menyeruak: apa arti lebaran untukmu, untukku, untuk kita? Begitu banyak orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman, menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilo, mengarungi segala kemungkinan bahaya yang bisa jadi menghadang di depan sana. Kira-kira, apa yang menggerakkan kita semua melakukannya? Lebih jauh lagi, apa makna hari raya bagi diri kita itu sebenarnya..??

Humm… Aku takut ini hanya menjadi semacam ritual yang telah kehilangan maknanya dalam hidupku. Rasanya ingin mencoba melewatinya dengan cara yang berbeda, namun nampaknya aku takkan pernah punya nyali untuk itu. Karena ku tau, for some people, it means a lot. Aku hanya berusaha menghormatinya, paling tidak sampai aku menemukan kembali maknanya.

Lepas dari itu semua, selamat idul fitri bagi siapapun yang (ingin) merayakannya.


Labil..

Sebagian orang tampak begitu cepat berubah. Pagi bercita-cita menjadi A, namun sore harinya sudah berubah pikiran. Mungkin kita tak menyadari, kadangkala 1 detik bagi seseorang bisa menjelma menjadi beberapa jam. Bukankah hitungan waktu tidak selalu mekanis sesuai yang ditunjukkan jam, tapi bisa juga berdasarkan hitungan kita sendiri? Mungkin bagi orang lain hanya berjarak beberapa jam, tapi ketika kita menghitungnya dengan pengalaman kita, akal kita, waktu yang beberapa jam itu bisa melebihi tahunan. Mungkin orang lain tidak akan pernah mengerti. Sudahlah, toh tidak perlu juga berharap tuk dimengerti.

Berhenti berharap, karena itu hanya akan makin menyurukkan diri kita makin dalam. Hanya berusaha mengalir seperti air, dan membiarkan takdir terus menerus mempermainkan hidup.

Berhenti berencana, karena itu hanya akan memunculkan harapan agar itu terwujud. Hanya berusaha mengikuti arus, dan membiarkan semesta membawaku ke tempat yang diinginkannya.

Tak lagi punya kehendak, rencana, dan harapan. Lalu apa bedanya manusia dengan binatang? Ah, mungkin tak perlu dibedakan juga..


Everything will never be the same again…

Semuanya tak kan pernah sama lagi. Segala yang kita lakukan dan katakan, akan mengubah tatanan yang telah ada, membuatnya tak kan pernah sama lagi. Ya, mungkin aku juga berharap dia tidak pernah mengatakannya, dan segala sesuatunya serupa seperti sebelum itu terjadi. Tapi apakah itu akan membuat kami lebih bahagia?

Kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, bukan? Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita bisa mencari solusi terbaik untuk semuanya? Mungkin pilihan yang terburuk baginya malah justru pilihan yang paling memungkinkan. Tapi apakah itu akan membuat kami lebih bahagia?

Ah, lagi-lagi takdir bermain-main dengan hidupku…

Terjatuh di lubang yang sama, terpuruk ke titik yang sama. Oh come on, belajarlah sesuatu dari itu semua, emma!